Karena suatu saat "Damai" bukan hanya slogan Dunia.

Sabtu, 10 September 2016

Gelar “Kafir”, Menghambatmu untuk Masuk Surga



Gelar Kafir, Menghambatmu untuk Masuk Surga
Dengan Menyebut Nama Allah yang Maha Pengasih, lagi Maha Penyayang

Salam damai, Ummat beriman
Assalamualaykum Warahmatullahi Wabarakatuh~

Saudara damai, sebelum membaca artikel ini. Alangkah baiknya jika Anda membuka Kafir. Labeling for Non-Moslem. Agar Anda tahu mengapa penamaan “kafir” dijatuhkan kepada saudara-saudari kita yang non Muslim. Pertanyaan yang kali ini akan dibahas adalah : “Mengapa Orang Kafir Masuk Neraka Meskipun Suka Berbuat Baik?”

Salah satu keyakinan dalam Islam adalah orang kafir, meskipun suka berbuat baik, ia akan masuk neraka dan kekal di dalamnya. Apalagi jika sudah kafir lantas memusuhi dan memerangi Islam. Banyak sekali ayat dalam Al-Qur’an yang menyatakan bahwa perilaku syirik (menyekutukan Allah/Menuhankan apa-apa selain Allah) dosanya tidak diampuni dan neraka jahannam menjadi rumahnya di akhirat nanti. Dalam Al-Qur’an Allah jelas berfirman :

Innalladziina kafaruu min ahlil kitaabi walmusyrikiina fiinaa ri jahannama khaalidiina fiiha. Ulaa ika hum syarru-lbariyyah : “Sesungguhnya orang-orang yang kafir yakni ahli Kitab dan orang-orang yang musyrik (akan masuk) ke neraka Jahannam; mereka kekal di dalamnya. Mereka itu adalah seburuk-buruk makhluk” (QS. Al Bayyinah: 6)

Saudara damai, mari kita analogikan. Jika kita mengikuti ujian, misalnya Saya (penulis) mengikuti ujian SNMPTN untuk masuk ke perguruan tinggi dambaan Saya. Ada lima mata pelajaran dalam ujian yang harus Saya kerjakan, diantaranya: IPA, IPS, Matematika, Bahasa Inggris, dan Bahasa Indonesia. Untuk masuk ke perguruan tinggi tersebut, Saya harus lulus dengan nilai sempurna di masing-masing mata pelajaran tadi. Jika Saya mendapat nilai 100 pada ke-empat mata pelajaran tapi dalam satu pelajaran yakni matematika, Saya mendapat nilai 10. Pertanyaannya, Apakah Saya akan lulus? Jawabannya adalah, tidak. Saya akan gagal.

Saudara damai, jadi sama seperti itu. Persyaratan untuk pergi ke surga yang pertama adalah Anda harus memiliki iman, kemudian amal saleh, mengajak orang lain kepada kebenaran dan menasehati orang lain agar bersabar.
Anda mungkin orang yang baik, Anda mungkin bersedekah dan sebagainya, tapi jika Anda tidak punya iman, jika Anda tidak beriman kepada Tuhan yang Maha Esa, jika Anda tidak menyembah Sang Pencipta yang sejati, Anda gagal dalam ujiannya.

Jadi agar Anda lulus, Anda harus lulus dalam ke-empat persyaratan ini:
1.      Iman kepada Tuhan yang Maha Esa, jangan menyembah berhala, tidak beriman kepada tuhan yang salah.
2.      Melakukan amal kebaikan.
3.      Mengajak orang lain dalam jalan kebenaran (dakwah).
4.      Menasehati orang lain agar bersabar.

Jika Anda tidak beriman kepada Tuhan yang Maha Esa dan Anda menyekutukan-Nya, maka Anda tidak lulus dalam ujian akhirat. Anda gagal.

Sekian dari kami. Semoga menjadi ilham. Sekian dan salam damai dari kami-Muslim-yang-mencintai-perdamaian.

Asyhaduallaa-Ilaaha-Ilallah, Waasyhaduanna-Muhammada(r)-Rasulullah~

“Aku bersaksi bahwa tiada Tuhan selain Allah, dan aku bersaksi bahwa Muhammad utusan Allah.”

Assalamualaykum Warahmatullahi Wabarakaatuh~



Share:

Makanan Non Vegetarian Membuat Ummat Muslim Kejam



Makanan Non Vegetarian Membuat Ummat Muslim Kejam
Dengan Menyebut Nama Allah yang Maha Pengasih, lagi Maha Penyayang

Salam damai, Ummat beriman
Assalamualaykum Warahmatullahi Wabarakatuh~

Saudara damai yang beriman, selepas membahas penyembelihan hewan, kemudian muncul pertanyaan terkait pengkonsumsian hewannya. Pertanyaan:
“Ilmu pengetahuan mengungkapkan bahwa apapun yang dimakan seseorang akan mempengaruhi tingkah laku si pemakan. Mengapa kemudian Islam memperbolehkan umat Muslim untuk mengkonsumsi makanan non vegetarian padahal mengkonsumsi makanan hewani bisa membuat orang menjadi kejam dan buas?”

Saudara damai, kembali kita simak terkait pengkonsumsian daging hewan:
1.      Hanya diperbolehkan mengkonsumsi hewan herbivora
Saudara damai, kami sepakat dan sependapat bahwa apa yang dimakan seseorang berpengaruh terhadap tingkah laku orang tersebut. Ini menjadi salah satu alasan mengapa Islam melarang umatnya mengkonsumsi hewan karnivora yang kejam dan buas seperti singa, macan, macan tutul dan lain sebagainya. Konsumsi terhadap hewan tersebut mungkin bisa membuat orang menjadi kejam dan buas. Islam hanya memperbolehkan umatnya memakan hewan herbivora yang tenang dan jinak seperti sapi, kambing, domba dan lain sebagainya. Ummat muslim memakan hewan yang tenang dan jinak karena Muslim adalah pecinta kedamaian dan bukan orang-orang yang kejam.

2.   Al-Qur’an mengatakan bahwa Nabi melarang hal-hal yang tidak baik Al-Qur’an menyatakan:

“Nabi menyuruh mereka mengerjakan yang ma'ruf dan melarang mereka dari mengerjakan yang munkar. Nabi meghalalkan bagi mereka segala yang baik dan mengharamkan bagi mereka segala yang buruk.” (QS. [7]:157)
"Maka terimalah apa yang diberikan Rasul kepadamu dan tinggalkanlah apa yang dilarangnya bagimu.” (QS. [59]:7)

Saudara damai yang beriman, bagi kami (Muslim), sabda Nabi sudah cukup meyakinkan bahwa Allah tidak menginginkan manusia untuk mengkonsumsi beberapa jenis daging tapi juga mengijinkan manusia untuk mengkonsumi jenis yang lainnya.

3. Hadits Nabi Muhammad SAW yang melarang konsumsi terhadap hewan karnivora.

Menurut beberapa Hadits asli yang diriwayatkan oleh Shahih Bukhari Muslim termasuk hadits yang diriwayatkan oleh Ibnu Abbas di Shahih Muslim, bab berburu dan penyembelihan, hadits no. 4752 dan Sunnan Ibnu I Majah bab 13 hadits no. 3232 sampai 3234, Nabi Muhammad SAW melarang dikonsumsinya:
a)  Hewan buas yang bertaring, yaitu hewan yang memakan daging atau karnivora. Hewan ini masuk kedalam kelompok kucing seperti singa, macan, kucing, anjing, serigala, hyena dan lain sebagainya.
b)  Hewan pengerat seperti tikus, tikus besar, kelinci yang bercakar dan lain sebagainya.
c)       Hewan melata atau reptil seperti ular, buaya dan lain sebagainya.
d)       Burung pemangsa yang memiliki kuku tajam atau cakar seperti burung heriang, elang atau rajawali, burung gagak, burung hantu dan lain sebagainya.

Saudara damai yang beriman, tidak ada bukti ilmiah yang menyatakan atau membuktikan kekhawatiran bahwa memakan makanan non vegetarian (sebagaimana menurut hukum Islam) membuat seseorang menjadi kejam.
Sekian dari kami. Semoga menjadi ilham. Sekian dan salam damai dari kami-Muslim-yang-mencintai-perdamaian.

Asyhaduallaa-Ilaaha-Ilallah, Waasyhaduanna-Muhammada(r)-Rasulullah~

“Aku bersaksi bahwa tiada Tuhan selain Allah, dan aku bersaksi bahwa Muhammad utusan Allah.”

Assalamualaykum Warahmatullahi Wabarakaatuh~


Share:

Metode Penyembelihan Hewan Secara Islam Tampak Kejam



METODE PENYEMBELIHAN HEWAN SECARA ISLAM TAMPAK KEJAM
Dengan Menyebut Nama Allah yang Maha Pengasih, lagi Maha Penyayang

Salam damai, Ummat beriman
Assalamualaykum Warahmatullahi Wabarakatuh~

Salam ummat damai, ada saudara kita yang mengajukkan pertanyaan:
“Mengapa ummat Muslim menyembelih hewan dengan cara yang kejam dengan menyiksa dan membunuhnya (untuk mendapatkan daging yang ‘halal’)?”

Membaca pertanyaan tadi, kami pikir pertanyaan tersebut merupakan pertanyaan yang sangat cerdas dan tepat sehubungan dengan momen perayaan ‘Idul Adha, di mana kami ummat Muslim menyembelih/meng-qurban-kan hewan qurban (Sapi/kambing/domba). Maka saudara damai, mari kita simak jawaban dari pertanyaan di atas:

Ummat damai yang beriman, metode penyembelihan hewan dalam Islam yang dikenal dengan istilah Zabiha telah menjadi hal yang banyak dikritik oleh orang non Muslim. Namun melalui poin-poin berikut akan kami tunjukkan bahwa metode Zabiha itu tidak hanya sangat manusiawi tapi terbukti secara ilmiah merupakan metode yang terbaik:

1.      Metode Islami dalam menyembelih hewan.
Zakkaytum adalah kata kerja yang berasal dari akar kata Zakah (untuk mensucikan). Bentuk infinitif dari kata tersebut adalah Tazkiyah yang berarti penyucian/pemurnian. Saudara damai, berikut merupakan syarat-syarat penyembelihan hewan secara Islami meliputi hal-hal sebagai berikut:
a.     Hewan harus disembelih dengan alat (pisau) yang tajam.
Saudara damai, hewan harus disembelih dengan alat (pisau/golok) yang tajam sehingga prosesnya bisa cepat untuk meminimalisir rasa sakit pada saat penyembelihan.

b.     Potonglah pipa tenggorokan dan kerongkongan juga urat nadi di leher.
Perlu diketahui saudara damai, Zabiha adalah kata dalam bahasa Arab yang berarti disembelih. “Penyembelihan” dilakukan  dengan memotong tenggorokan, kerongkongan dan urat nadi di leher sehingga hewan mati tanpa harus memotong urat saraf tulang belakang.

c.     Darah harus dikeluarkan
Darah harus benar-benar dikeluarkan dari tubuh sebelum kepala hewan tersebut dipotong. Tujuan dialirkannya darah sampai habis dari tubuh hewan tersebut adalah karena darah akan menjadi media yang baik untuk tumbuhnya mikro organisme. Sumsum tulang belakang tidak boleh dipotong sebab syaraf-syaraf yang menuju ke jantung bisa rusak sehingga darah akan membeku dalam pembuluh darah.

2.      Darah adalah media/medium yang baik untuk kuman dan bakteri
Darah adalah media yang baik untuk kuman, bakteri, racun, dsb. Sehingga, cara Muslim menyembelih hewan lebih higienis sebab darah yang bisa menjadi media tumbuhnya kuman, bakteri, racun dsb. Darah harus dibuang, sehingga bisa meminimalisir kemungkinan terjadinya infeksi penyakit melalui daging yang dimakan.

3.      Daging menjadi segar untuk waktu yang lebih lama
Daging yang disembelih dengan cara Islam menjadi segar untuk waktu yang lebih lama dikarenakan jumlah darah dalam daging sedikit jika dibandingkan dengan metode penyembelihan yang lain.

4.      Hewan tidak merasakan sakit
Perlu diketahui saudara damai, pemotongan urat nadi di leher memutuskan aliran darah ke syaraf-syaraf yang berhubungan dengan rasa sakit di otak. Oleh karena itu, hewan tidak merasa sakit. Ketika sekarat, hewan memberontak, bergerak-gerak dan menendang-nendang bukan dikarenakan sakit, tapi karena adanya kontraksi dan relaksasi dari otot-otot karena keluarnya aliran darah dari tubuh. 

Dari apa yang telah kami utarakan, baca : Makanan Non Vegetarian Membuat Ummat MuslimKejam
Sekian dari kami. Semoga menjadi ilham. Sekian dan salam damai dari kami-Muslim-yang-mencintai-perdamaian.

Asyhaduallaa-Ilaaha-Ilallah, Waasyhaduanna-Muhammada(r)-Rasulullah~

“Aku bersaksi bahwa tiada Tuhan selain Allah, dan aku bersaksi bahwa Muhammad utusan Allah.”

Assalamualaykum Warahmatullahi Wabarakaatuh~


Share:

Kamis, 18 Agustus 2016

Jesus is a Moslem (Yesus adalah Seorang Muslim)



Jesus is a Moslem
Dengan Menyebut Nama Allah yang Maha Pengasih, lagi Maha Penyayang

Salam damai, Ummat beriman
Assalamualaykum Warahmatullahi Wabarakatuh~

Saudara damai yang beriman, kami ummat Muslim mengenal Isa AS sebagai Nabi (Bukan Yesus). Sementara saudara kita yang beragama Kristiani mengatakan, Isa AS adalah Yesus. Dan banyak yang merasa bingung ketika mendengar statement bahwa “Yesus adalah Nabi Isa AS (yang kita kenal sebagai Nabi, bukan Tuhan). Maka ini adalah salah satu pemicu, saudara kita yang memeluk erat Atheisme karena muncul pertanyaan di benak mereka: “Maka, apa itu Isa?” dan “Siapa itu Yesus? Apakah Isa adalah Yesus, sebaliknya, atau berbeda? Jika mereka adalah orang yang sama, mengapa nama panggilannya berbeda?”
Saudara damai yang beriman, mari kita ulas:

Kami, ummat Muslim mengenal Isa AS sebagai Nabi yang ke-24, Rasul Allah sebelum Rasulullah Muhammad SAW. Dengan lidah Ibrani, lidah Aramai, lidah Arab, lidah Indonesia menyebutnya dengan Isa. Saudara yang beriman, Nama Isa Al-Masih/Isa AS diambil oleh Paulus ke Romawi,kemudian ia ubah menjadi agama Kerajaan yang bertransformasi menjadi agama Kerajaan Romawi hingga melebar sampai ke Eropa dan menimbulkan banyak missed communication. Aksen bangsa barat tidak bosa menyebutkan vokal depan dan terakhir. Seperti contoh, bangsa barat tidak bisa memanggil orang yang bernama “Yakub” dengan menyebut “Ya-kub”, maka mereka menyebut “Yakub” dengan “Jacob”, sehingga sering “Jacob” memiliki nama panggilan “Jack”. Nama lain seperti, “Yohana”, mereka tidak bisa menyebutnya dengan nama “Yohana”, tetapi memanggilnya dengan nama “John.”

Saudara damai yang beriman, lalu bagaimana dengan Isa? Mari kita ulas:
“Isa”, mereka (bangsa barat) tidak bisa memanggil “Isa” dengan jelas seperti, “I-sa”. Aksen barat melafalkan huruf “I” memang sebagai “Ai”, namun mereka melambangkan “E” sebagai pengganti “I” (contohnya: e-mail (dibaca i-mel), e-book (dibaca i-buk), dst.). Kemudian huruf “A” bisa dilambangkan dengan huruf “U” (contohnya: kata ‘But’ dibaca ‘Bat’). Maka mereka (bangsa barat) melafalkan “Isa” diwakili dengan huruf “Esu”, akan tetapi orang barat (khususnya eropa) tidak bisa memakai huruf vokal (A, I, U, E, O) sebagai pengganti nama. Maka mereka harus menambahkan huruf konsonan di depan “E” dari “Esu” dengan huruf tertentu. Diambilah huruf “J” (Je) sebagai pengganti kata orang dan huruf konsonan lain yang disimpan setelah “U” dari “Esu”. Diambil-lah lagi huruf “S” (Es/Eus) sebagai kata ganti orang (Nama, seperti : ‘Johannes’, dari nama  ‘Yahya’ di mana ada huruf vokal ‘A’ yang sulit dilafalkan orang barat).  Maka jadilah J + ‘Isa’ + S = “Jisas” yang kemudian bangsa mereka lafalkan menjadi J + ‘Esu’ + S = “Jesus.

Kesimpulan: Isa = Jisas = Jesus.
Sederhana. Ini sama seperti kata “Ibrahim”, jika dalam aksen barat, maka Ibrahim dibaca: “Aibreheum”, kemudian ditulis: “Abraham” yang dibaca: “Ebreheum”. Atau “Yunus”, dalam aksen (pronountiation) barat dibaca: “Jhanas”, kemudian ditulis: “Jonas” yang dibaca: “Joneus”.

Ketika bangsa barat menjajah bangsa timur (salah satunya Indonesia), dilafalkan-lah nama “Jesus” ke timur dan termasuk ke Indonesia. Ketika bangsa barat menyebut “Jesus” (Jisas), orang Indonesia zaman dulu menggunakan ejaan lama dengan melafalkan “J” sebagai pengganti “Y” (Contohnya: ‘Jang’ dibaca ‘Yang’, ‘Menjerah’ dibaca ‘Menyerah’). Maka ketika kata “Jesus” dilafalkan dan dituliskan oleh bangsa barat, orang Indonesia membacanya dengan nama “Yesus”. Ketika ejaan lama berubah menjadi ejaan baru, maka “J” berubah menjadi “Y” (way). Dengan begitu, karena munculnya ejaan baru dan hingga sekarang, “Jesus” berubah menjadi “Yesus”.

Sangat sederhana, karena lidah orang timur menyebutnya “Isa” dan di barat menyebutnya dengan “Jesus”. Bila dicontohkan secara sederhana dan umum, sebagian dari kita tahu bahwa:

  •  “Gabriel” yang dimaksud bangsa barat adalah “Jibril” begitu pula dengan: 
  • Michael = Mikail 
  • Lucas = Lukman
  • Jacob = Yakub 
  • Johannes/John = Yahya
  • Joseph = Yusuf 
  •  Eve = Eva/Hawa 
  •   Noah = Nuh 
  •  David = Daud
  • Lot = Luth 
  •  Jonas = Yunus
  • Isaac = Ishak 
  •  Enoch = Idris
  • Elisha = Ilyasa 
  • Muse/Moses = Musa
  • Abraham = Ibrahim, dll.
·         Maka, “Jisas/Jesus” adalah “Isa


Bahkan ketika seseorang dari Anda membuka kamus bahasa Indonesia-Inggris atau translator lainnya, bahasa inggris dari Isa adalah Jesus. Hal itu disebabkan oleh proses pembentukan kata ganti serta makna yang telah kami jelaskan sebelumnya.

Saudara damai yang beriman, hal itu sederhana. Sangat. Bila kita kritisi, hanya karena lidah bangsa timur berbeda pelafalannya (pronounce-nya) dengan bangsa barat, justru telah melahirkan problem yang menjadi pertanyaan besar, khususnya antara ummat Muslim dan Kristiani yang memperdebatkan “Apakah Isa adalah Yesus?”

Saudara damai yang beriman, Yesus tidak mengetahui apa itu Kristen. Dalam sebuah buku krangan AM. Wilson yang berjudul Jesus’ Life halaman 22 dikatakan bahwa: “Paulus adalah pencipta dan pendiri agama Kristen”. Kemudian kita ulas lagi apa yang telah dikatakan Wilson dalam buku tersebut: “Bahwa orang-orang Kristen yang hidup sesudah zaman murid-murid Yesus tidak memahami jalan lurus. Jadi, para pengikut paulus tadi tidak memahami ‘Shirotolmustakim’ (Jalan lurus) yaitu Islam, yakni agama murid-murid Yesus. Jadi orang-orang Kristen yang datangnya sesudah Isa, tidak tahu bahwa agama yang dianut Isa dan murid-muridnya itu ialah Islam.” Bukan hanya Wilson yang mengatakan bahwa Paulus-lah yang mendirikan Kristen. Hendry Candrick dalam bukunya mengatakan: “Agama ini asalnya dari Paulus dan Paulus sendiri-lah yang memulai agama ‘Kristen’.”

Kemudian dikatakan lagi oleh Wilson dalam bukunya, halaman 248 dari sejak awal Nasrani (bagi kelompok Yesus) percaya untuk tetap menjadi Yahudi dan siapa saja yang masuk kedalam jalan yang lurus (Islam) sebagaimana mereka menyebut dengan sebutan “Agamanya Yesus” harus setuju mengikuti tata cara Yahudi waktu itu yaitu bersunat, maka Nasrani pun bersunat (Pernah menjadu sub-bahasan dalam laman: Kontroversi “Siapakah Jesus?”). Saudara damai yang beriman, bahkan Paulus-lah yang mengatakan “Jikalau kamu bersunat, Kristus tidak akan bermanfaat bagi kamu.” Maka Paulus, melarang Nasrani untuk bersunat. Padahal, perhatikan ayat Alkitab berikut:

Dan ketika genap delapan hari dan Ia harus disunatkan, la diberi nama Yesus, yaitu nama yang disebut oleh malaikat sebelum Ia dikandung ibu-Nya.” (Lukas 2:21 )

Dalam buku Hendry Candrick pula ia mengulas masa Nabi sebelum Isa yaitu Nabi Yahya atau “Yohanes Membaptis”, disitu dikatakan bahwa Romawi menganggap bahwa Islam adalah istilah yang digunakan untuk orang-orang yang beriman yang ditujukan kepada pengikutnya Nabi Yahya. Jadi Islam adalah agama para Nabi. Maka dari itu, kita berdo’a “Ihdinashirootolmustakim” (tunjukilah kami jalan yang lurus). Apa itu “shirotolmustakim”? yaitu “shirootoladzii na an ‘am ta’alaihim” (Yaitu jalannya orang-orang yang diberi nikmat). Jalanya Nabi Isa AS, Jalannya Nabi Muhammad SAW, Jalannya Nabi Yahya AS, Jalannya Nabi Daud AS, Nabi Musa AS, dsb. Lalu dikatakan orang Yahudi menyebut Yesus sebagai Nasrani atau Muslim. Dan itu adalah apa-apa yang ditulis oleh Hendry Candrick. Kemudian didalam Naskah Laut Mati, juga Kelompoknya Nabi yahya dan Nabi ISA ini juga disebut sebagai jalan lurus atau Islam. Jadi dulu yang dimaksud Yesus jalan lurus itu ialah yang taat mengikuti perintah Allah SWT. Saudara damai yang beriman, maka dari itu ketika ditanya oleh murid-muridnya: “Hai Yesus, apakah yang baik itu?”, Yesus pun mengatakan “Jangan kamu mengatakan aku baik. Tetapi kalau ingin masuk surga, taatlah kepada perintah Allah,” dan ini adalah Muslim.

Saudara damai yang beriman, Yesus tidak mungkin Kristen. Mengapa? Mari menyimak kembali:

  • Kristen berarti Kristus,
  • Kristen berarti Orang Yang Menyembah Kepada Yesus Kristus

Jika = Yesus adalah seorang Kristen
Maka = Yesus Menyembah Dirinya Sendiri
Pertanyaannya = Logis-kah?

Allah berfirman di dalam Al-Qur’an agar ummat Muslim yang taat dan beriman, dan disampaikan kepada Rasulullah Muhammad SAW untuk kemudian beliau syiarkan kepada ummat Islam. Dalam ayat tersebut dikatakan:



Begitu pula dalam Alkitab, Allah berfirman untuk ummat yang beriman dan disampaikan kepada Isa AS sebagai Rasul pada masanya (sebelum Rasulullah SAW ada). Dalam ayat tersebut dikatakan: “Kamu harus menyembah Allah ,dan hanya kepada-Nya Kamu berbakti” (Matius 4:10)
Bukankah maknanya sama?

Nabi Isa Shalat. Dikisahkan Yesus shalat ketika tiba waktu Dzuhur, kemudian Yesus pun permisi kepada murid-muridnya untuk shalat Dzuhur. Berkata-lah Isa (Yesus): “Hai muridku, tunggu di sini aku mau sholat” Ummat Nabi Isa AS, tidak tau shalatnya Nabi Isa AS. Berbeda dengan Rasulullah Muhammad SAW yang bersabda: “Shalatlah kamu, sebagaimana kamu melihatku shalat”. Sehingga, saat zaman Ke-Rasul-an Isa AS, shalat hanya baru dilaksanakan Isa AS. Kemudian pada masa ke-Rasul-an terakhir (zaman Nabi Muhammad SAW), shalat itu diwajibkan bagi ia dan ummatnya.

Nabi Isa AS (Yesus) pun berpuasa. Dalam Alkitab dikatakan: “Dan setelah berpuasa 40 hari 40 malam , akhirnya laparlah Yesus” (Matius 4:2)
Lalu bagaimana dengan kami ummat Muslim? Menahan lapar dan dahaga serta hawa nafsu dari terbit fajar hingga terbenam matahari. Apakah ummat Muslim lapar ? Ya, lapar! Sama seperti Yesus, setelah ummat Muslim berpuasa 30 hari 30 malam, laparlah Ummat Muslim. Logis?
Bahkan diulas sebelumnya bahwa Yesus-pun membaca syahadat.
Saudara damai yang beriman. Dari ulasan di atas, maka kami sudah memberikan bukti bahwa Yesus adalah Muslim. Bila Anda menyimak dengan baik, maka Anda akan ingat poin berikut:

1) Yesus mengajarkan dan mengucapkan Syahadat, dia mengajarkan dan mengerjakan shalat, mengajarkan dan mengerjakan puasa, dia mengajarkan sunat dan ber-sunat (dikhitan).

Saudara damai yang beriman, maka sekarang kita tanyakan

  • Apakah saudara kita, Ummat Kristiani bersyahadat ?
  • Apakah saudara kita, Ummat Kristiani berpuasa seperti Yesus? 
  • Apakah saudara kita, Ummat Kristiani shalat seperti Yesus?
  • Apakah saudara kita, Ummat Kristiani bersunat seperti perintah Yesus (Isa AS) ? Justru sebaliknya, Paulus mengatakan “Jikalau kalian sunnat, maka Kristus tidak akan bermanfaat bagi kamu”


Kami rasa Anda memiliki jawaban masing-masing tentang pertanyaan di atas

2)    Yesus seorang Kristiani ? Bukan. Kristen diambil dari kata “Kristus” maka “Kristen” adalah orang yang menyembah Yesus Kristus. Lalu, apakah Yesus menyembah dirinya sendiri sedangkan dia bersyahadat? Jawabannya adalah: Mustahil.


  • Ummat Islam bersyahadat ? Ya, Islam berysahadat dan mengakui tidak tuhan selain Allah , Muhammad utusan Allah. Sama seperti Yesus yang bersyahadat: Tiada Tuhan selain Allah, Isa utusan Allah. 
  • Ummat Islam berpuasa seperti puasa Isa AS ? Ya,  berpuasa selama bulan Ramadhan ditambah puasa sunnah lainnya.
  • Ummat Islam ber-sunat/dikhitan ? Ya Ummat Islam wajib sunat/khitan untuk menyucikan diri.
  • Ummat Islam shalat ? Ya, Ummat Islam wajib shalat 5 waktu ditambah shalat sunnah lainnya.

Maka siapa yang lebih taat kepada Rasul Allah? Kristen atau Islam ? Maka apakah masih kita mengatakan Kristen didirikan Isa AS? Maka apakah kita masih mengatakan bahwa Isa asalah tuhan ? atau Anak tuhan ? Dengan damai dan tegas, kami dan jutaan ummat Muslim lainnya menjawab, tidak!
Isa AS beragama Islam, dan Isa AS adalah utusan Allah.

Saudara damai yang beriman, apabila saudara kita ummat Kristiani mengubah keyakinannya menjadi Islam (Mu’alaf), maka mereka akan mendapatkan banyak berkah serta keuntungan:

  • Mu’alaf akan menjadi pengikut Rasulullah Muhammad SAW tetapi tidak meninggalkan Isa AS 
  • Mu’alaf akan mentaati Rasulullah Muhammad SAW sekaligus mentaati Isa AS
  • Dosa para Mu’alaf yang telah lalu Insya Allah diampuni Allah SWT

Sementara, apabila ummat Muslim mengubah keyakinannya dan menjadi Murtadin, maka ia akan merugi:
  •  Mengira dirinya telah mengikuti Isa AS. Padahal ia mengikuti ajaran Paulus. 
  • Meninggalkan Rasulullah Muhammad SAW, meninggalkan pula Isa AS
  • Dosa tidak akan diampuni Allah SWT, karena kafir.

Mari kita lihat QS. Al-Maidah, ayat 17 :
Sungguh telah kafir orang-orang yang meyakini, bahwa Tuhan itu adalah Al-Masih putera Maryam. Katakanlah! ‘Maka siapakah yang dapat menahan Allah, jika hendak mematikan Al-Masih putera Maryam dan Ibunya atau seluruh yang hidup di muka bumi ini ?

QS. Al-An’am, ayat 101:
(Tuhan) Pencipta langit dan Bumi, bagaimana mungkin Dia mempunyai putera, padahal Dia telah menciptakan segala sesuatu dan Dia Maha Mengetahui segala sesuatu.

QS. Al-Mukminun ayat 91:
Tidaklah Allah mempunyai anak dan tidak pula ada Tuhan disamping-Nya. (karena jika mempunyai anak dan ada Tuhan selain-Nya), maka masing-masing Tuhan akan membawa ciptaan-Nya sendiri dan sebagian akan lebih unggul dari sebagian yang lainnya.”
Sementara dalam Alkitab , Matius 10 : 34-36:
“Engkau harus menyembah Tuhan, Allah-mu dan hanya kepada Dia sajalah engkau berbakti.”

Maka jelas. Yesus terbukti Muslim.
Semoga menjadi ilham. Sekian dan salam damai dari kami-Muslim-yang-mencintai-perdamaian.

Asyhaduallaa-Ilaaha-Ilallah, Waasyhaduanna-Muhammada(r)-Rasulullah~

“Aku bersaksi bahwa tiada Tuhan selain Allah, dan aku bersaksi bahwa Muhammad utusan Allah.”

Assalamualaykum Warahmatullahi Wabarakatuh~

Share:

Kunjungi kami

Kunjungi kami
Klik untuk masuk ke G+ Kami

Siapa Kami dan siapa Anda?

Anda dan Kami, serumpun. Mengalir dalam darah kita, garis keturunan Adam dan Hawa. Nafas pun, kita peroleh dari Sang Khaliq. Tidak ada manusia yang berdiri sendiri. Sari pati tanah adalah asal mula penciptaan kita. Serumpun dalam rukun. Membangun kata "Damai" agar bukan hanya sebagai slogan Dunia. Salam Damai, dari ummat yang ingin berdamai. أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا رَسُوْلُ اللهِ Asyhaduallaa Ilaaha-Illallaah - Wa-Asyhadu Anna Muhammada-rrasuulullah. Allahu Akbar!

Translate this/Terjemahkan

Klik untuk mencari artikel kami